Rabu, 23 Maret 2011

KADO CINTA SEORANG PENYAIR PADA NEGARA, SEBELUM BERBARING ISTIMEWA


Telaah atas Kumpulan Puisi Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush Karya Asep Sambodja

Oleh: Moh. Ghufron Cholid*

Asep Sambodja telah berkamar debu, namun cintanya pada negara tanpak sangat bergelora. Sebelum memenuhi panggilan Tuhan, Asep Sambodja telah memberikan kado istimewa pada bangsanya.

Berhala Obama dan Sepatu buat Bush merupakan kado terakhir yang bisa diberikan kepada bangsa yang telah dicintainya. Bangsa tempatnya memulai sejarah dan menerjemahkan sejarah, hingga akhirnya memusiumkan langkah.

Asep Sambodja dengan kumpulan puisi ini, benar-benar secara total melukiskan ketegasan sikap terhadap semua yang telah disaksikan dan semua yang telah didengar namun bertentangan dengan hati nuraninya.

Asep Sambodja secara sadar dan totalitas bangkit dan dengan lantang bersuara, menggemakan segala cita dan rasa agar semua bisa merasakan segala sejarah ataupun segala kejanggalan hidup yang ditemuinya.

Kepada Susilo Bambang Yudhono

1/
ini puisi soal negara
puisi ini tidak terlalu serius
sama seperti negara yang tidak serius memberantas korupsi

Kalau sepintas kita menelaah bait pertama yang hanya saya ambil tiga baris saja, kita bisa mengetahui sikap tegas Asep terhadap segala peristiwa yang dialami bangsa.

Asep secara sadar dan lantang menyuarakan isi hatinya. Asep tak perduli dengan segala hal yang akan diterima, yang ada dalam benaknya rakyat harus sejarahtera dan korupsi harus binasa.

Asep memandang orang yang nomer satu di Indonesia sebagai orang yang layak menjadi tempat bercurah rasa, terhadap bencana bangsa. Bisa saja karya ini bermakna gugatan, bisa juga bermakna api semangat untuk pemerintah agar semakin serius menangani masalah korupsi yang terjadi.

Karya yang ditujukan pada Susilo Bambang Yudhoyono bukan tanpa alasan kalau kita telah karya tersebut, seakan memiliki makna magma harapan yang begitu besar agar orang nomer satu di negara ini, menjadi pribadi yang arif, pribadi yang secara lantang berperan aktif dalam memberantas korupsi.

Kepedulian Asep terhadap bangsa tak cukup dituang dalam karya yang ditujukan kepada presiden. Namun Asep pun memperhatikan tentang kesejahteraan rakyat jelata. Kesejahteraan prajurit yang selalu siap mati di medan laga. Siap berada dibarisan terdepat untuk mati demi kebahagian bangsa.

Kepedulian Asep terhadap kesejahteraan jiwa-jiwa yang berjasa terlukis jelas dalam;
4/
kita hormati soedirman
tapi bisakah kita hormati juga prajurit di garis depan,
ibu-ibu di dapur umum,
perempuan-peremuan yang merawat luka,
dan para pinisepuh yang mengasah bambu runcing
-dulu mereka disebut empu-
yang turut berjuang?
5/
kini soedirman dikenang sebagai pahlawan nasional
dan jalan yang pernah dilaluinya dengan tandu
kini mulus bagai jalur sutera
sementara rakyat yang turut berkeringat dan berdarah-darah
hanya dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa
dan pahlawan tak dikenal
ya, pahlawan tak dikenal!
dan hingga kini jalan yang pernah mereka lalui
masih berbatu dan berlubang

(Kepada Bupati GunungKidul Sumpeno Putro, hal 9)
Secara gamblang Asep sambodja menginginkan ada persamaan penghargaan yang diberikan kepada para pejuang, tanpa membedakan status semisal jalan yang di jalalui soedirman bagai jalur sutera sementara yang dilalui pejuang dari rakyat jelata masih berbatu dan berlubang.

Sekali lagi Kumpulan Puisi Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush merupakan kado istimewa yang diberikan Asep Sambodja kepada negara tercinta sebelum berbaring istimewa.

Karya ini layak diapresiasi dan dijadikan bahan renung bersama, paling tidak untuk memupuk rasa cinta dan membangun kebersamaan antar sesama.

Akhir kata tak ada gading yang tak retak, terlepas dari plus minusnya saya haturkan selamat membaca dan selamat mengapresiasi serta selamat menerjemahkan dalam bait-bait kehidupan.

Al-Amien Prenduan, 22 Maret 2011 

* Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar