Kamis, 24 Maret 2011

Lomba Esai-Narasi Pendidikan Kritis 2011

Forum Nasional Pendidikan Kritis-Alternatif

Mempersembahkan
LOMBA ESAI-NARASI PENDIDIKAN KRITIS 2011
Preambule

Sebagai gerbang masa depan Indonesia yang lebih baik, pendidikan sering diabai, sering tak dilakukan dengan dedikasi profesionalisme tinggi. Hanya sebatas mengajar 'apa adanya', tak lebih, hanya menggugurkan pelaksanaan kurikulum. Ini bisa disimpulkan melihat prestasi anak negeri yang masih bisa dihitung dengan jari, kondisi politik-ekonomi-sosial-budaya yang tak mencerminkan pelakunya berpendidikan tinggi, tak menjunjung nilai-nilai moralitas-universal. Semua semakin karut marut.
Karut marut pendidikan selama ini bisa kita lihat dari filosofi pendidikan yang membebankan peserta didik layaknya mesin, target kurikulum yang tak berpihak pada kemampuan dan kemajemukan daya peserta didik, pelaksanaan proses pendidikan yang menggunakan kekerasan dan segala anasir subversif, guru tidak kreatif, kaku, tidak menyenangkan. Dan anehnya semua itu seperti sengaja dikekalkan oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan pemerintah tak serius mengubah arah pendidikan menjadi lebih baik, hanya mengandalkan politik anggaran pendidikan 20 persen saja. Itu tidak cukup.
Lalu, bisakah ini dibebankan pada proses pendidikan yang ternyata telah gagal? Pendidikan adalah ujung tombak perubahan sebuah negeri. Hal ini bisa dilihat dari kejatuhan Jepang setelah dijatuhi bom atom di Hirosima dan Nagasaki, tapi kejatuhan itu segera dibangunnya kembali melalui pendidikan. Dan saatnya kita mempersembahkan semua daya pikir kita untuk negeri.
Untuk itu, dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional bertepatan dengan pelaksanaan seminar nasional oleh Forum Nasional Pendidikan Alternatif bertajuk “Pendidikan Humanis Hari Ini”, panitia pelaksana (panpel) memberi kesempatan bagi mahasiswa dan guru untuk berkarya memberi sumbang pemikiran kritis idealis dan solutif dalam rangka ‘memanusiakan manusia’ secara tertulis dalam Lomba Esai-Narasi Nasional 2011.

Pelaksana
FORUM NASIONAL PENDIDIKAN KRITIS-ALTERNATIF
Waktu pelaksanaan 22 Maret – 22 Mei 2011

Tema
PELAKSANAAN PENDIDIKAN ALTERNATIF
Sub tema
1. Pendidikan dilematis
2. Belajar itu asik
3. Berbenah dari kelas
4. Antara guru, fasilitator, dan orang tua
Alamat mengirim
Naskah dikirim ke narasi.ep@gmail.com
Peserta
1. Mahasiswa
2. Guru

Penilaian
1. Orisinalitas;
2. Gaya bahasa; dan
3. Ketepatan analisa.
Pengumuman kepesertaan
Pertama 5 April 2011
Kedua 3 Mei 2011
Ketiga 22 Mei 2011 (Hari terakhir pengiriman naskah, pukul 24.00 WIB)
Pengumuman pemenang
24 Mei 2011
Ketentuan-ketentuan
1.         Naskah boleh berbentuk narasi atau esai.
2.         Naskah tidak pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik.
3.         Naskah ditulis di atas kertas ukuran A4, margin normal, 1 spasi, minimal 5 halaman, disertai fotenote / daftar pustaka bila terdapat rujukan atau kutipan.
4.         1 orang peserta hanya mengirim maksimal 2 naskah.
5.         Naskah fokus pada sub tema, tidak bercabang.
6.        Halaman akhir naskah dilengkapi dengan data pribadi ( nama, alamat, usia, tempat kuliah, tempat mengajar, no HP / kontak, email, dan no rekening -pribadi atau berwakil).
7.         Setiap pengiriman naskah peserta melampirkan ettachment file scan KTP yang masih berlaku.
8.        Setiap peserta diharuskan menulis isi pengumuman lomba ini di note FB masing-masing dengan men-tag 25 teman termasuk akun FB panitia (sebelumnya add forum.pendidikan@ymail.com).
9.         Kepesertaan gugur bila tidak sesuai ketentuan naskah.
10.     Naskah yang masuk menjadi milik panitia.
11.     Hanya pemenang yang akan dihubungi panitia via email / telepon dan hadiah dikirim ke no rekening pemenang.
12.     Keputusan panitia adalah kuat dan tidak dapat diganggu gugat.

 Hadiah*
Kategori mahasiswa
Penerima penghargaan pertama Rp. 6.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.000.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 1.500.000;

Kategori guru
Penerima penghargaan pertama Rp. 7.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.500.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 2.000.000;

* Keterangan : Hadiah sudah termasuk pajak

MENULIS PUISI SPONTANITAS ALA MOH. GHUFRON CHOLID


oleh Moh. Ghufron Cholid pada 25 Maret 2011 jam 7:34
Menulis puisi spontanitas bagi saya merupakan salah satu cara menulis yang mengasyikkan, sekaligus penuh tantangan. Kita dituntut untuk bisa menghasilkan karya yang maksimal dengan waktu yang sangat minim.

Namun bagi sahabat yang kebetulan mengalami hal yang serupa, sahabat bisa memakai cara penulis lain atau bisa juga memakai cara yang biasa saya pakai.

Berikut saya berikan teknik menulis puisi spontan yang biasa saya lakukan semoga langkah sederhana ini bisa bermanfaat untuk umat dan kita bisa saling berbagi karya dengan orang lain.

Sebelum menulis puisi yang ingin kita selesaikan secara spontanitas maka kita pun bisa menempuh langkah-langkah berikut:
1 Penginderaan
Penginderaan adalah tahap pertama yang harus kita tempuh, pada tahap penginderaan ini, kita konsentrasi secara penuh tentang objek yang akan kita jadikan puisi.
Semisal kita akan membahas tentang masjid dalam puisi, maka langkah penginderaannya, kita pandangi masjid dengan cermat, pandangan hanya kita tujukan pada masjid saja segala hal yang tidak berkenaan dengan masjid kita tinggalkan.

2. Menciptakan Kesan
Setelah melewatu proses pada langkah pertama maka langkah kedua ini menjadi langkah yang tak boleh diabaikan dalam menulis puisi spontan, dengan menciptakan kesan paling tidak kita bisa melukiskan secara detail apa yang akan kita tulis dan apa yang akan kita bahas.

3. Mulai menulis
Setelah kedua langkah telah kita tempuh, tibalah pada langkah terakhir yakni memulai menuliskan apa yang kita inginkan dalam waktu singkat, semisal kita hanya memiliki waktu 5 menit maka 3 menit kita gunakan untuk penginderaan dan mencipta kesan sementara 2 menit kita gunakan untuk menulis.

MASJID

Mengatur jadwal kencan
Akan beradu mata zaman
Selaksa kafan
Jarak pertemuan
Indah menerbangkan ketakjuban
Dalam menatap Tuhan

Kamar Hatim 2011

Puisi tentang masjid ini adalah contoh puisi spontan yang saya lakukan, saat itu saya bayangkan masjid adalah tempat pertemuan dalam menatap Tuhan

Demikianlah yang bisa saya tulis, moga tulisan ini bermanfaat untuk semua sahabat, mohon maaf atas segala yang kurang berkenan jika ada kebenaran semua berasal dari karunia Tuhan, jika ada kesalahan bersalah dari kebodohan saya sebagai seorang insan.

KEHIDUPANKU

Pedangku adalah pena
Tamengku adalah buku
Temanku adalah kata-kata

Al-Pend, Mei 2010

Rabu, 23 Maret 2011

PUISI PUISIMU SEINTIM NAMAMU (TELAAH ATAS 5 PUISI RINI INTAMA DALAM ANTOLOGI PUISI PHANTASY POETIECA)


                                                                                      Oleh Moh. Ghufron Cholid

Puisi dikaji dari sudut apapun selalu unik dan menarik untuk dibahas.Lewat puisi kita bisa mengetahui bagaimana seorang penyair mengabadikan perasaannya dalam puisi, di samping itu juga bisa mengetahui sejauh mana pesan yang disampaikan penyairnya bisa diterima atau pun digugat oleh pembacanya.

Baik buruknya suatu karya yang telah di bukukan bergantung dari sudut mana seorang pembaca memandang.
Perasaan tiap pembaca pastilah berbeda antara satu dengan lainnya. Bisa saja sebuah karya dianggap bagus dalam satu sisi namun di sisi yang lain tidak berhasil memikat hati pembaca.Hal semacam ini sudah menjadi sunatullah sepanjang hayat, perasaan seperti ini yang saya rasakan setelah membaca 5 puisi Rini Intama dalam Antologi Puisi Phantasya Poetika.

Baiklah untuk mempersingkat waktu dan untuk memfokuskan tulisan ini, izinkan saya menela'ah 5 puisi tersebut dari sudut keintimannya saja, bisa jadi dalam satu puisi hanya diambil satu bait ataupun beberapa baris ini, hal ini sangat wajar untuk memfokuskan suatu telaah.
Telaah yang saya buat adalah tela'ah berdasar dari cara saya sendiri sebagai pembaca tanpa harus membebankan diri dengan teori-teori sastra yang ada,mungkin cara ini bisa diterima oleh individu/kelompok bisa saja ditolak atau bahkan dicemooh,apapun apresiasi yang akan timbul menandakan bahwa tulisan yang dibuat bisa dihukumi hidup lantaran ada yang peduli dengan lahirnya sebuah tulisan, walaupun pada akhirnya sebuah tulisan tersebut digugat atau disepakati.

Keintiman puisi DI PERSIMPANGAN YANG LINDAP (hal,92) ada di bait pertama:
-kutebas pedang karat di pucuk rindu senyap|kupinang darah pekat di dada nafasku mengap|di langit kisah kisah mengendap
Betapa indah keintiman yang diabadikan dalam sebuah puisi sehingga seluruh mata terpana dalam ketegasan yang diendapkan.

Rini Intami mencoba mengintimi kehampaan dengan begitu memukau,seperti yang dilukiskan di bait ketiga (SAJAK HAMPA, hal 93) yakni:
-tak ingkar jika melihat nestapa dalam debar|cahaya memedar melepas di depan cermin kusam|dalam waktu sepanjang badanDalam bait ini terlukis jelas bahwa dalam kehampaan betapa debar nestapa sangat mesra menyapa jiwa yang dilanda kasmara. Kehampaan telah menghidangkan hubungan intim yang penuh kedukaan.

Kini Rini Intama pun hadir kembali mengintimi sebuah perasaan dalam puisinya berjudul NYANYIAN SANG OMBAKSajak Pantai Utara, Hutan Bakau dan aroma cinta (hal,94), rasa intimnya tampak jelas dalam bait kedua, baris pertama dan baris kedua:-Burung burung masih menyapa birunya mega dalam kenang|berkubang kisah metamorfora alam-Betapa nikmat rasa intim yang disajikan sedang dalam puisi MERAJUK (hal,95) Rini Intama berbicara keintiman yang lebih tegas lewat bait terakhirnya-merajuk, tak hingga jemariku|menggapai bayang|pada mimpi yang terkerat|dan melambailah ujung kain yang tersulam indah|menyeret sebaris bait nyanyian sukma- Sungguh keintiman tentang ketidak berdayaan telah tersampaikan.

Inilah keintiman yang menjadi puncak yang layak dikaji dalam mengintimi peristiwa reformasi yang tertuang indah,tegas dan menyentil dalam tiga baris terakhir-aku tak ingin bertanya lagi Mei!|kecuali ketika melihat pucuk cemara tertawa geli|mengundang debu jalanan yang tersapu angin-(SURAT PADA MEI)di sinilah puncak ke Intiman penyair benar-benar menampar alam pikir. Penyair tidak akan bertanya tentang apa saja di bulan mei tersebut selama pemegang kekuasaan baik secara individu,kelompok atau instansi tidak mengusik ketenangan rakyat jelata.

Demikian telaah saya atas 5 puisi Rini Intama ditinjau dari sudut keintimannya, dari 5 puisi tersebut saya hanya menghadirkan satu bait atau beberapa baris saja yang saya anggap sesuai pembahasan. Akhirnya setelah tulisan ini dibuat saya pasrahkan sepenuhnya kepada Allah dan kepada segenap sahabat pembaca. Tak ada karya yang sempurna kalau masih karya manusia oleh karena itu silaturrahmi menjadi sangat penting untuk saling melengkapi.

Kamar Hati,6 Nov 2010
* Pembina Sanggar Sastra Al-Amien 

PENYAIR ROMANTIS TAK LUPA NENEK MOYANG


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Membaca Kumpulan Puisi Bumi Gora karya M. Hasan Sanjuri sama halnya membaca lombok dengan segala keunikannya.
Tak hanya itu,pembaca juga dimanjakan dengan puisi cinta dan bercanda dengan kenangan. Bahkan kita juga diajak bertamasya memaknai hidup seseorang terhadap nenek moyangnya.

sepotong senja di puncak rinjani/adalah senja yang gemetar di ujung waktu/dan telah sampai kepadaku/pesan nenek monyang/yang lama bergemuruh di dada rakyatmu

(bait pertama dalam puisi berjudul Sepotong Senja di Puncak Rinjani)

Betapa sangat akrabnya penyair dengan nenek moyangnya hingga tak mau daun-daun kenangan berguguran tanpa melafalkan keakraban.

Kini penyair hadir, untuk mempenalkan tempat wisata yang ada di daerahnya dalam wajah yang begitu anggun.
Panorama ini bisa dirasakan keindahannya dan keunikan Senggigi dalam puisinya berjudul Peta Rindu, tepatnya bait kedua,

kerling matamu mengingatkanku/pada debur ombak di pesisir senggigi/tempat musafir melepaskan mantra/dengan tarian yang tak pernah selesai digerakkan.

Ada keunikan tersendiri, ketika kita membaca pola pikir penyair dalam memaknai kepergian orang yang istimewa dalam hidupnya, hal ini terlukis jelas dalam bait terakhir puisinya yang berjudul Kepergianmu, sementara bayang-bayang percintaan kita belum sempurna menjadi asmara. gadisku,sampai kapan perjalananmu masih kau rahasiakan?

Dari bait di atas,kita bisa mengetahui betapa romantisnya penyair dalam menyampaikan risalah hati kepada orang yang dicintainya.

Pembaca akan dibuat terpana manakala penyair menyampaikan risalah hati yang tak bersambut dari orang yang dicintainya namun selalu menghindar saat dimintai jawaban, akhirnya dengan penuh ketegasan penyair berkata;
kalau memang tak mampu tuk setia/mengapa harus menunggu waktu untuk membunuhku/tancapkanlah semua belati/yang kau asah di tubuh nenek moyangmu/dan jangan kau tandai kuburku dengan batu nisan/agar semua orang tak lagi mengenalku sebagai manusia (bait pertama,Nasib Tak Menginginkan Kita Bersama)

Terlepas dari min&plus buku ini layak diapresiasi.Selamat Membaca dan selamat mengapresiasi dan untuk guruku M. Hasan Sanjuri semoga kau berkenan dengan tulisan saya yang sederhana ini.


Kamar Hati, 26 November 2010
Biodata Penulis


*Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA)& Pembina 10 Sorak Garuda

TIGA MASA DALAM PUISI

Oleh Moh. Ghufron Cholid

HANYA INI YANG BISA KUCERITAKAN

: KH. Moh. Idris Jauhari


Kau kenakan baju kedewasaan
Menyambut topan penuh kemesraan
Di tiap ruang pertemuan

Hanya ini yang bisa kuceritakan
Tentang perjalanan
Yang tak pernah kau agungkan
Walau depan cermin jaman
Yang telah dianugerahkan Tuhan

Kamar Hati,2011

 

DEBUR OMBAK DI MATAMU

: KH. Maktum Jauhari,MA

Debur ombak di matamu
Tak pernah tuntas melukis rindu
Lantaran di ranjang waktu
Kau belum mampu
Rukuk bersama anak-anak pelangi negeri
Di tanah Ilahi
Tempatmu menata hati

Kamar Hati,2011 
Puisi ini kubuat khusus untuk Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang sedang sakit

 

KADO SURGA

: Alm. KH. Itsnaini Djaka

Belum sempat kurangkum
Tentram dan kelam
Kau pilih tanda diam
Jalur pertemuan
Istirah dari segala topan

Ayat-ayat luka
Bukanlah airmata
Melainkan sumber doa
Kado surga untuk keluarga

Kamar Hati,2011
*Pembina SSA dan Pembina 10 Sorak Garuda

KADO CINTA SEORANG PENYAIR PADA NEGARA, SEBELUM BERBARING ISTIMEWA


Telaah atas Kumpulan Puisi Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush Karya Asep Sambodja

Oleh: Moh. Ghufron Cholid*

Asep Sambodja telah berkamar debu, namun cintanya pada negara tanpak sangat bergelora. Sebelum memenuhi panggilan Tuhan, Asep Sambodja telah memberikan kado istimewa pada bangsanya.

Berhala Obama dan Sepatu buat Bush merupakan kado terakhir yang bisa diberikan kepada bangsa yang telah dicintainya. Bangsa tempatnya memulai sejarah dan menerjemahkan sejarah, hingga akhirnya memusiumkan langkah.

Asep Sambodja dengan kumpulan puisi ini, benar-benar secara total melukiskan ketegasan sikap terhadap semua yang telah disaksikan dan semua yang telah didengar namun bertentangan dengan hati nuraninya.

Asep Sambodja secara sadar dan totalitas bangkit dan dengan lantang bersuara, menggemakan segala cita dan rasa agar semua bisa merasakan segala sejarah ataupun segala kejanggalan hidup yang ditemuinya.

Kepada Susilo Bambang Yudhono

1/
ini puisi soal negara
puisi ini tidak terlalu serius
sama seperti negara yang tidak serius memberantas korupsi

Kalau sepintas kita menelaah bait pertama yang hanya saya ambil tiga baris saja, kita bisa mengetahui sikap tegas Asep terhadap segala peristiwa yang dialami bangsa.

Asep secara sadar dan lantang menyuarakan isi hatinya. Asep tak perduli dengan segala hal yang akan diterima, yang ada dalam benaknya rakyat harus sejarahtera dan korupsi harus binasa.

Asep memandang orang yang nomer satu di Indonesia sebagai orang yang layak menjadi tempat bercurah rasa, terhadap bencana bangsa. Bisa saja karya ini bermakna gugatan, bisa juga bermakna api semangat untuk pemerintah agar semakin serius menangani masalah korupsi yang terjadi.

Karya yang ditujukan pada Susilo Bambang Yudhoyono bukan tanpa alasan kalau kita telah karya tersebut, seakan memiliki makna magma harapan yang begitu besar agar orang nomer satu di negara ini, menjadi pribadi yang arif, pribadi yang secara lantang berperan aktif dalam memberantas korupsi.

Kepedulian Asep terhadap bangsa tak cukup dituang dalam karya yang ditujukan kepada presiden. Namun Asep pun memperhatikan tentang kesejahteraan rakyat jelata. Kesejahteraan prajurit yang selalu siap mati di medan laga. Siap berada dibarisan terdepat untuk mati demi kebahagian bangsa.

Kepedulian Asep terhadap kesejahteraan jiwa-jiwa yang berjasa terlukis jelas dalam;
4/
kita hormati soedirman
tapi bisakah kita hormati juga prajurit di garis depan,
ibu-ibu di dapur umum,
perempuan-peremuan yang merawat luka,
dan para pinisepuh yang mengasah bambu runcing
-dulu mereka disebut empu-
yang turut berjuang?
5/
kini soedirman dikenang sebagai pahlawan nasional
dan jalan yang pernah dilaluinya dengan tandu
kini mulus bagai jalur sutera
sementara rakyat yang turut berkeringat dan berdarah-darah
hanya dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa
dan pahlawan tak dikenal
ya, pahlawan tak dikenal!
dan hingga kini jalan yang pernah mereka lalui
masih berbatu dan berlubang

(Kepada Bupati GunungKidul Sumpeno Putro, hal 9)
Secara gamblang Asep sambodja menginginkan ada persamaan penghargaan yang diberikan kepada para pejuang, tanpa membedakan status semisal jalan yang di jalalui soedirman bagai jalur sutera sementara yang dilalui pejuang dari rakyat jelata masih berbatu dan berlubang.

Sekali lagi Kumpulan Puisi Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush merupakan kado istimewa yang diberikan Asep Sambodja kepada negara tercinta sebelum berbaring istimewa.

Karya ini layak diapresiasi dan dijadikan bahan renung bersama, paling tidak untuk memupuk rasa cinta dan membangun kebersamaan antar sesama.

Akhir kata tak ada gading yang tak retak, terlepas dari plus minusnya saya haturkan selamat membaca dan selamat mengapresiasi serta selamat menerjemahkan dalam bait-bait kehidupan.

Al-Amien Prenduan, 22 Maret 2011 

* Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA)

PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN, PENYAIR HAN DAN ETNIS TIONGHOA DALAM BINGKAI KARYA

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Senin, 21 Maret 2011 merupakan hari yang istimewa penuh dengan anugerah. Hari ini etnis Tionghoa menjadi tamu pondok pesantren Al-Amien.
Di tengah-tengah robongan ada sosok yang sangat familiar di kalangan masyarakat utamanya pencinta dunia tulis menulis, yang namanya mulai banyak dikenal masyarakat dengan karyanya berjudul Konde Penyair Han (Hanna Fransisca).
Setelah shalat maghrib rombongan tiba di pesantren dan mendapatkan sambutan kekeluargaan berbingkai pengertian dari keluarga besar pesantren Al-Amien.
Kemudian mengikuti sesi pengarahan yang dipimpin oleh Hamzar Arsa M.Pd, para rombongan dengan sangat antusias mendengarkan dan mengikuti acara pengarahan perkenalan pesantren, lalu di lanjutkan dengan acara ramah tamah, yakni merasakan hidangan yang telah disediakan oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren.
Tak hanya itu, para peserta yang hadir dimanjakan dengan berwisata mengelilingi komplek pesantren dengan memakai mobil yang telah disediakan panitia dan mobil pribadi yang dibawa rombongan.
Auditorium Putra menjadi saksi mata zaman yang sangat pesona, karena di sinilah diadakan rangkaian acara yang dibingkai dalam sambutan dari ketua etnis Tionghoa yang diwakili oleh Hanna Fransisca dan sambutan dari Majlis Kiai Al-Amien yang diwakili oleh KH. Maktum Jauhari selaku Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Hanna Fransisca melukiskan kegembiraan etnis Tionghoa yang sangat bahagia karena telah disambut dengan semangat kekeluargaan, dimanjakan dengan wisata pesantren sekitar komplek, diperkenalkan dengan sikap pesantren Al-Amien yang selalu ramah kepada seluruh tamu yang hadir tanpa memandang status sosial dan status agama.
Hanna Fransisca juga menyampaikan bantuan dana untuk pendidikan yang diberikan oleh ketua rombongan etnis Tionghoa sementara KH. Maktum Jauhari menyambut segala sambutan Hanna Fransisca dengan santun dan penuh ketegasan bahwa semua bantuan yang diberikan takkan pernah masuk dalam kantong pribadi. Tak hanya itu, untuk menyakinkan KH. Maktum Jauhari,MA menyatakan bahwa seluruh penghuni Al-Amien mulai dari Majlis Kiai hingga seluruh tukang yang ada dalam lingkungan pondok bisa dipercaya.
Akhirnya tepakan demi tepukan tangan memecahkan keheningan ruangan, semua merasakan gairah persahabatan yang anggun, tanpa ada perbedaaan agama, yang ada hanyalah pengertian. Yang ada hanyalah semangat persahabatan dan semangat untuk terus maju memebrikan yang terbaik dalam hidup.
Rangkaian demi rangkaian acara telah usai digelar. Saling tukar cindera mata pun telah dilaksanakan. Kini tibala pada acara puncak penampilan-penampilan, penampilan pertama diisi oleh Penyair Han. 
Hanna Fransisca tampil di depan seluruh peserta silaturrahmi dengan membacakan salah satu puisi yang ada dalam buku Konde Penyair Han. Pembacaan yang memukau membuat seluruh peserta terhibur dan larut dalam ketakjuban. Usai Hanna membacakan puisi, tibalah Zainullah santri Kelas V TMI Al-Amien yang sekaligus menjabat sebagai presiden pesantren dari kalangan santri membacakan puisi Mbak Hanna. Rizal salah seorang santri asal Banjarmasin ikut memeriahkan acara dengan membacakan puisi Mbak Hanna dengan penuh penghayatan.
Penampilan tersebut rasanya kurang meriah jika seluruh peserta yang hadir, belum mendengarkan salah satu Guru Senior Pondok Pesantren Al-Amien membacakan puisi Mbak Hanna dalam tiga bahasa.
Akhirnya KH. Ja'far Shodiq,MM tampil dengan membaca puisi tiga bahasa, ketakjuban demi ketakjuban dilukiskan dalam tepukan tangan para peserta yang hadir. Tak hanya itu Hanna Fransisca sebagai seorang penyair tentulah merasa sangat terharu karena apresiasi yang diberikan keluarga besar Al-Amien Prenduan terhadap Konde Penyair Han.
Sungguh malam anugerah telah bertabur rahmah dan barokah. Semua terhibur dan semua tak menyadari bahwa waktu terus berlari/ membawa kemesraan cumbu/kaki semakin tak bisa melangkah/namun sejarah harus dilanjutkan dengan gairah/Lalu/Abjad-abjad kenangan diabadikan dalam foto bersama.
Tandatangan demi tanda tangan Hanna Fransisca mengisi lembaran-lembaran masa penggemarnya. Hanna sangat santun memenuhi permintaan seluruh penggemarnya yang ada dalam pesantren.
Setelah semua acara usai dilaksanakan akhirnya semua etnis Tionghoa bersiap-siap satu persatu menaiki bus, Hanna Fransisca ikut naik bus tersebut melanjutkan perjalanan, sementara saya dan seluruh keluarga besar Al-Amien juga ikut melepas kepergian rombongan untuk melanjutkan perjalanan.

Malam anugerah
Ruh-ruh hadir penuh gairah

Perlahan
Dinding rahmah
Lantai barokah
Jendela hikmah
Saling menjadi mata sejarah

Kini
Ruh-ruh telah pergi
Namun kenangan abadi dalam taman hati

Akhrinya hanya bait-bait puisi itu yang bisa saya berikan sebagai penutup melukis kebahagiaan hati, lantaran Penyair Han beserta etnis Tionghoa telah berkenan berkunjung ke pondok Al-Amien Prenduan, suatu tempat yang banyak mengenalkan saya pada bait-bait hikmah dan banyak mengajarkan kepada saya tentang manfaat keistiqomahan dalam mengabadikan sejarah dalam tulisan.
Terimakasih Hanna Fransisca sahabatku, terimakasih seluruh etnis Tionghoa atas silaturrahmi ini, selamat jalan, selamat menjalani hidup dan menerjemahkan kehidupan.

Kamar Hati, 21 Maret 2011
* Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA)