Selasa, 12 April 2011

Lomba Menulis Buku Bersama 007 : IRAWATI SYAHRIAH EWT: Mudah, Memberi Solusi, dan Bersahabat


oleh Ersis Warmansyah Abbas pada 12 April 2011 jam 11:55
Sebagai seseorang yang baru hidup di perantauan, sergapan kerinduan terhadap kampung halaman tentulah merupakan hal tidak terhindarkan. Betapa tidak. Selama ini menikmati keindahan hidup di kota kelahiran, Banjarmasin; sejak dilahirkan, kuliah dan berdinas sebagai andi negara. Hidup begitu indahnya.

Allah SWT mentakdirkan berjodoh dengan orang dari seberang lautan, Pasuruan, Jawa Timur. Kami hidup di Banjarmasin sampai suatu ketika bersepakat ‘pulang’ ke kampung suami. Orang tua suami masih lengkap sedangkan di Banjarmasin saya dapat dikategorikan " yatim piatu". Kami bertekad mendampingi orang tua suami di hari tuanya.

Sekalipun sudah mempersiapkan mental menjadi “Wong Jowo”, pada awalnya kaget juga dalam relasi budaya, bahasa, dan kuliner. Tetapi, hal tersebut dapat diatasi seiring berlalunya waktu. Lagi pula, ‘jatuh cinta’ dengan kesejukan kota Malang dan kecantikan lingkungannya. Bertekad sekaligus pasrah menjalani hidup di perantauan, di bumi Allah mana pun diikhlaskan karena Allah.

Hidup ini perjuangann. Kerinduanan akan Banjarmasin tentu sangat mendenda. Apalagi, kendala biaya bukanlah hal mudah untuk sering pulang ke kampung halaman. Alhamdulillan, facebook dijadikan solusi pengobat rindu ber "say halo”, berbahasa Banjar dengan teman-teman komunitas SMAVEN SMAN7 Banjarmasin, atau alumni IAIN Antasari Banjarmasin, atau Urang Banjar lainnya.

Begitulah. Mengenal Ersis Warmansyah Abbas (EWA) melalui seorang teman, Gt.Muh.Rahmadi. Saya meminta agar diterima sebagi teman. Karena akun FB EWA penuh, pertama gagal menjalin pertemanan dengannya. Setelah mengetuk pintu lewat inbox, Alhamdulillah akhirnya diterima. Mungkin dengan mendelet temannya yang tidak aktif.

Dari dulu saya memang berkeinginan bisa menulis. Rugi rasanya senang membaca tetapi tidak pandai menulis.Dalam mindset waktu itu, “kok begitu sulitnya menulis". Padahal sangat banyak yang ingin ditulis. Kalau ditulis, jangankan menjadi tulisan yang lezat dinikmati orang, dinikmati sendiri saja, pahit rasanya.

Suatu hari mendapati di beranda FB saya serial motivasi menulis dari EWA.Wah, kiranya menarik. Saya menelusuri catatan EWA dari yang terbaru sampai yang lawas. Mnemukan EWT(Ersis Writing Theory). Sebagai sarjana S1 saya sangat awam menulis. Sumpah, tidak bisa nulis. Lalu menyadari, ketika menulis makalah semasa mahasiswa dan skripsi, bisa jadi asal-asalan kali. Prinsip EWT tidak mengutuk ‘masa lalu’, tetapi mari memulai menulis sekarang. Membelajarkan diri. EWT ini tidak membebani dengan jargon teorinya "Menulis mudah”. Lakukan sembari belajar.

Dalam pada itu, EWA istiqomah mempostingkan tulisan-tulisan yang menggelorakan semangat menulis dengan bumbu menarik. Hebatnya, dari pengalaman sehari-hari, baik ketika di kampus, keluarga, berekreasi di dalam dan ke luar negeri.Semanagt semakin terpacu.

Saya mengambil makna. Belajar menulis ala EWT tidak dibatasi ruang dan waktu; kapan saja dan di mana saja. Jujur saja, saya ‘terperangkap’ menjadi penggemar tulisan-tulisan EWA. EWA dengan tulus menularkan virus-virus motivasi menulis kepada siapa saja. Tidak jemu-jemunya. Teman-teman EWA juga orang hebat-hebat dari seluruh Indonesia; dosen, pebisnis, birokrat, pejabat, ustadz, mahasiswanya, atau siapa saja. EWA tidak memilih-milih teman.  

Kehebatan EWT adalahh: mudah dicerna dan diprakltekkan. Ayo menulis. Lakukan. Tidak usah takut salah, logika belum tangkas, pengetahuanpun masih centang perenang. Tidak masalah. Menulis sembari belajar; membereskan pengetahuan, membangun kemampuan menulis terus menerus. Kesalahan dan kegagalan menulis adalah proses pembelajaran.

EWT memberi solusi. Ketika jari jemari mempraktekkan EWT dengan melakukan menulis, hasilnya tulisan. Saya tersenyum-senyum setelah ‘membongkar’ catatan di FB yang hancur-hancuran. Mana pula banyak file yang bersisi satu, dua tiga alinea. Tetapi itu dulu. Apa sebab?

EWA dengan EWTnya memberi solusi. Postingan motivasi menulis, entah bagaimana caranya, menjawab pertanyaan-pertanyaan di benak penulis pemula seperti saya. Semangat bergelora. Rasa minder diatasi dengan menulis (lagi). Begitu kesibukan memojokkan, seolah EWA paham, memposting tulisan bermuatan, kesibukan bukan alasan. Saya menertawakan diri membaca tulisan, Raja Alasan. Saya tahu EWA mempunyai aktivitas yang lebih seru.

Intinya, menulis menjadi solusi dan obat jiwa yang kadang berontak, pilu, bersyukur dan sebagainya. Lagi pula, paparan EWT dengan bahasa bersahabat dalam manajemen sharing, dan pembaca ‘dilibatkan’. Sesibuk apa pun EWA, berusaha menanggapi tulisan siapa pun yang berintegrasi dengannya. Lebih seru, sesekali-sekali EWA menyajikan tulisan lelucon segar menghibur semacam kritik sosial

Simpulan saya, mempraktekkan EWT, berarti menanamkan keikhlasan dalam menulis, berusaha menyebar kebaikan dan perbaikan dalam penyampaian kesabaran dan kebenaran, dan meraih cintaNYA sebagai tujuan terindah dan termulia menulis.

Terimakasih EWA. Salam menulis.

Malang, 11 April 2011

Oleh : Irawati Syahriah. (Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat
Pemkot Malang) Hp 081334980985, 0341 8171867.
Alamat :Jl. Ikan Kakap no 36 RW 06 RT 02 Malang 65142

Sumber http://www.facebook.com/notes/ersis-warmansyah-abbas/lomba-menulis-buku-bersama-007-irawati-syahriah-ewt-mudah-memberi-solusi-dan-ber/10150157522032933

Tidak ada komentar:

Posting Komentar