Selasa, 12 April 2011

PESISIR WAKTU, QAF DAN SIHIR HUJAN : KATA DI MATA PENYAIR


Penyair hanya mempunyai kata-kata. Kata-kata yang dilahirkan dari denyut perasaan dan pemikiran  paling dalam. Sebuah pilihan kata-kata paling indah bagi menggambarkan kegiatan-kegiatan manusia dan masyarakat seperti politik, agama, filsafat, sosial, ilmu pengetahuan dan sains. Secara introvet atau ektrovet, penyair adalah jiwa sesebuah masyarakat, sebuah bangsa. Sebab itulah, kalau Chairil Anwar dan Usman Awang dikatakan mewakili bangsa besar serumpun, itu kenyataannya. Chairil dan Usman tidak pernah mati dari ingatan bangsanya. Begitu juga seniman-seniman besar yang lain seperti Pramoedya, Amir Hamzah, Hamzah Fansuri, Ishak Haji Muhamad ( Pak Sako ) Arenawati dan lain-lain, yang telah pergi meninggalkan kita.

Di Eropa, para filosof seperti Voltaire ( 1694-1778 ) atau Rosseau ( 1712-1778 ) sentiasa dikenang.  Mereka berdua seakan menimbulkan semacam ledakan revolusi rakyat bagi Perancis ( 1787 ). Di Amerika, Thomas Paine ( 1737-1809 ) melalui Common Sense, The Crises, The Right of Man menyebabkan leburnya empayar British. Di Asia, Rabindranath Tagore ( 1867-1941 ) melalui Gitanjali menghidupkan lapangan budaya dan sosial masyarakat. Di Aceh, negeri Serambi Makkah ini dibangunkan oleh sebilangan sastrawan yang cukup bersemangat. Arwah Maskirbi, De Kemalawati. L.K. Ara, Helmi Hass, Dr. Harun Al-Rasyid, Rahmad Sanjaya memainkan peran utama. ( Perlu diingat keterlibatan seniman-birokrat seperti N. H. Nordin dan Hajah Eliza Sahbuddin Djamal ikut menyumbang ) Di Jambi, Dr. Sudaryono ( Dimas Arika Mihardja ) biar pun bukan asal Jambi ( beliau asal Yogyakarta ) tetapi mengabdi di Jambi, Ahmad David, Asrizal Noor dan angkatannya bergerak hebat. Di Malaysia, Kemala, Siti Zainon Ismail, Muhamad Haji Salleh, Zurinah Hassan, Fatimah Busu, A. Samad Said dan lain-lain adalah nama besar dalam puisi dan prosa.

Cuma dalam pengkhususan puisi, saya mengambil A. Latif Mohidin ( Pesisir Waktu, 1981 ), Moechtar Awang ( Qaf, 1985 ) dan Sapardi Djoko Damono ( Sihir Hujan, 1984 ) Tiga penyair ini dengan pilihan kata-kata ajaibnya seperti kata A. Teeuw " Tergantung Pada Kata ".

A. Latif Mohidin melalui Pesisir Waktu adalah kumpulan puisi yang memenangi Anugerah Puisi Putra 1 ( 1981 ) Pesisir Waktu dikatakan karya sensibiliti yang halus dan kritis, melihat dengan kaca mata baru dan paradoks. Latif menyelusur bawah sadar dengan pemetaan-pemetaan ekspresi. Dalam sub-tema ' gerimis tumbuh ' Latif menulis;

pada dinihari
gerimis tumbuh
dari langit ke bawah
menjunjung benih basah
dan meletakkannya
di tengah-tengah halaman
rumah kami

esok hari
bunga-bunga hujan
akan membiak di sana
akarnya melata melingkar
ke pintu ke ruang jendela
menggelapkan pandangan

di saat itu
mengertilah kami
gerimis tumbuh
dari langit ke bawah
menjunjung perintah Mu

Puisi Latif ini menggambarkan luaran dan dalaman. Bahagian luarnya kelihatan lincah dengan kebebasan, tidak kaya interpretasi. Sebaliknya di bahagian dalam kaya dengan persoalan. Lihatlah bagaimana payah mengimajankan gerimis tumbuh. Tumbuh membawa konotasi ke atas tetapi adakah gerimis tumbuh ke atas. Sudah pastinya ia turun ke bawah. Turun ke bawah tidak dikatakan tumbuh. Ini kontradiksinya. Dalam baris 3 terakhir, Latif menuliskan, gerimis tumbuh/ dari langit ke bawah/ menjunjung perintah Mu. Kerana perintah Mu itulah apa-apa saja seruannya adalah kehebatan.

Dalam Keheningan Menghirup Perlahan, Latif menulis;

keheningan menghirup perlahan
pasir-pasir halus antara kerikil
menghirup kabus menghirup angin
di sepanjang jalan pesisir

aku duduk di lantai rumah malam
mengingatkan kehebatan perintahMu
burung-burung yang terbang tertidur
daun-daun gugur bagai berserpihan batu

siapakah yang akan lahir di saat begini?
kiambang laut membiak di puncak rimba
gunung-gunung tumbuh di bawah kulit bumi
keheningan menghirup abadi di langitMu

Sekali lagi kita temui kontradiksi iaitu, kiambang laut membiak di puncak rimba/ gunung-gunung tumbuh di bawah kulit bumi. Namun semua ituj ditutup juga dengan mengingatkan kehebatan perintahMu. Kegiatan luar puisi Latif seakan senyap namun menggelapar di dalamnya. Analisa struktur puisi Latif berhubung rapat dengan dirinya sebagai pelukis di mana alam, diri, kesepian, ketenangan, kemusnahan alam sekitar dan maut akan dipancing dalam pemilihan kata-katanya.

Dalam  Keheningan Menghirup Perlahan, Latif mengingterpritasikan pasir-pasir halus antara kerikil dan kabus dikaitkan dengan keheningan lantai rumah yang didudukinya. Keheningan ini menimbulkan seperti penyelaman dasar batini. Seorang penyair merupakan filosof yang dapat meraih dalam kedalaman tafsir. Latif diantara penyair yang sering meraih kedalaman penghayatan tersebut.

Daripada penggunaan waktu, penyair berubah memperlihatkan gejala alam seperti kemusnahan. Dalam puisinya serulingku telah kupatahkan ( hal. 13 ) Latif memperlihatkan gejala-gejala yang berlaku di sekelilingnya. Pertama, bagaimana pentas telah roboh. Lagu yang telah dihentikan, kecapi telah putus dan seruling telah kupatahkan. Semua ektrovet ini terasa kasar dalam kelembutan pilihan kata-kata Latif.

serulingku telah kupatahkan
kecapi telah putus
rebanaku telah tembus
pentasku telah roboh
laguku telah kuhentikan
suaraku telah kututup
pakaianku kembali koyak
kasutku kembali berdebu
uncangku kosong

aku penghibur jalanan
telah kembali ke gua

selubungi aku
bagai kau menyelubungi malam
dan palulah
wahai palulah olehmu
gendang yang paling lantang itu
bernama keheningan

Setelah semua musnah, Latif menyarankan, palulah olehmu/ gendang yang paling lantang/ bernama keheningan. Kontradiksi ini adalah sesuatu sinikal yang dilontarkan oleh penyair. Sebagai penghibur jalanan ( suatu metafora ) ketidakalihan kepentingan dan keberuntungan, Latif melihat sesuatu harus dimusnahkan sekiranya tiada keuntungan fizikal atau metarial tetapi harus dipulangkan ke gua kekosongan. Latif sebagai seniman alam serta pelukis melihat ini semua sebagai kebejatan semata-mata. Penyair ( peniup seruling ) adalah harga sebuah kehidupan daif yang harus dipinggirkan oleh maha petaka dan soldadu waktu.

Tentang nilai penyair atau seniman ini, Latif secara tenang menyatakan;

kerja menyair
tidak apa-apa
bukan sesuatu yang istimewa
aku tidak bisa bikin
tetanggaku lebih matang
atau menambah suap nasinya
atau mendamaikan perbalahan
dengan isterinya

kerja-kerja menyair
tidak apa-apa
aku tidak merasa lebih
dari pak tukang terompah
yang memotong kemudian memasang
getah pada kayu
dan memakunya
mengikut acuan buku jari
kerja-kerja begitulah setiap hari
supaya jari-jari ini
jadi biasa pada ukiran
mata pisau

kerja menyair
tidak apa-apa
seperti pak tukang terompah
aku duduk antara kayu yang keras
dan getah yang lembut
sambil membuat bentuk-bentuk
hanya sesekali lalai
tapak tangan bisa luka
dan terompah akan
bertambah sedikit darah
itu saja

Itulah kenyataan hidup penyair. Hidupnya ( duduknya ) di antara yang lembut dan yang keras. Dan kebiasaannya akan dilindas oleh yang keras. Yang digambarkan dengan ' tangan bisa luka/ dan terompah akan bertambah sedikit darah ' Latif menyuarakan itu kerana memang penyair yang jujur dengan dunianya merrupakan musuh kepada sang algojo. Penyair akan menyeludup kata-kata dan membiusnya ke dalam masyarakat. Sejak zaman ortodok Eropa lagi, penyair menjadi musuh birokrasi.

Dua puisi berikut, Latif memfokuskan kepada dua watak iaitu ' Rudaki Penjual Mimpi ' dan ' Dibil Penyair tak Siuman ' Dalam ' Raduki Penjual Mimpi ' ( hal. 12 ) Latif menulis;

bila Amir Nasir memaling muka ke Herat
dilihatnya kemah-kemah telah runtuh
udara berdebu dipukul angin kencang
laskar berkudanya bergulingan
khadamnya berlutut si tengah padang pasir
anggur kalanjari lisut di bawah terik matari
maka tahulah dia masim panas telah mula mencengkam
waktu telah tiba baginya kembali ke Bukhara
tapi Bukhara tela terkubur

Abu Raduki penjual mimpi pun menjelma
dipetiknya gambus dan mulai berqasidah
sambil membentang permaidani disulami permata
di dalamnya menjelma istana berwarna zamrud
laskar berkuda yang gagah mengangkat pedang
berbaris di kiri kanan gerbang dengan sinarnya
khadam datang menatang menuang air anggur
Amir Nasir telah berada kembali di Bukhara
walau hanya sesaat cuma

Sebuah kisah diangkat dari sejarah. Latif mengambil watak pahlawan yang sedang berkisah bersenjata gambus dan berqasidah. Dalam sebuah perang jihad, laskar mati bergulingan, Raduki hanya berjual mimpi. Sang penyair, selalunya mengambil sudut paling hampir dengan khayalannya.

Dalam ' Dibil Penyair tak Siuman ' ( hal. 33 ) sekali lagi penyair mengangkat objek tranperan. Lihatlah bagaimana Latif menulis dalam Dibil.

musafir itu menjadi rabun
kerana terlalu lama merenung matari
dalam tidur di padang pasir dilihatnya:

       buah labu melahirkan anak
       pagar menjadi cemas
       garamnya dimakan ulat
       batu yang dilempar kiranya anggur
       keldai tuanya mulai menari
       jandanya menjadi penukar wang
       Baghdad telah menjadi timbunan debu

mengikut tafsiran musuhnya
musafir itu adalah Dibil
penyair tak siuman

waktu diistytiharkan Dibil mati
puisinyua mulai bernafas

Latif tidak bisa tercicir mengungkap penyair. Walau dilugasnya dengan wearna hitam, tetapi Latif merasakan putihnya. Raduki Penjual Mimpi dan Dibil Penyair Tak Siuman juzuk negatif yang total. Tetapi di sebalik juzuk hitam itu, wajah putihnya terserlah. Raduki walau pun berkhayal Amir Nasir kembali ke Bukhara selepas perang walau pun hanya dalam sedikit waktu khayalannya. Begitu huga Dibil, penyair tak siuman, walau pun diisytiharkan mati oleh waktu, puisinya terus menyinar, bernafas! Itulah Latif, sentiasa mengadah untuk memenangkan si jembel dan marhain dalam praharanya.

Manakala dalam ' Qaf ' ( 1985 ) Moechtar Awang secara menyeluruh mengambil sejarah dan agama, membayangkan semacam keinginan memberi latar belakang kepada manusia dan pegangan hidup kemudiannya. Banyak yang diungkap tentang hidup dan mati, malah memberi tafsiran metaforikal seperti, Mayat adalah sepohon kayu yang hanyut ke pintu muara. Dalam ' Mayat ' ( hal. 15 ) Moechtar menulis,

sepohon kayu yang hanyut
ke pintu muara
jauh dari akar-akar yang merenggas
di hutan purba
terasing dari daun-daun yang gemersik
di padang hijau
sepi dari dahan-dahan yang terantuk
di lembah bukit

mayat
adalah sepohon kayu yang hanyut
ke pintu muara
di kanannya
air bukit yang bening
di kirinya
putaran lumpur yang kencang

Kepenyairan Moechatar Awang ditemui ketika Anugerah Puisi Putra diumumkan. Beliau antara penyair muda yang mendombrak datang. Dengan kumpulan puisinya Pasrah, Moechtar dinobat pemenang saguhati bersama Diah Hadaning. Pemenangnya adalah Latif Mohidin. Masih mengekalkan bentuk mentara yang diakrapi tetapi menjurus ke dalam menyelami dunia Islami. Walau pun tema Islam bukannya suatu tema baru yang diungkap penyair, tetapi Moechtar memberi tema ini kebenaran dan kesungguhan yang amat berkesan. Suaranya yang mendatar, rendah dan sepi, seperti separuh menyatakan dan separuh berdoa. Bahasanya cukup bening, terangkat imbangan makna rasional dan emosional yang terkawal.

Dalam Hira'  Moechtar menulis;

batumu mengental di dada Muhammad
bergetar dalam suara ghaib

langit turun menabur bau syurga
melompat iqra' ke jubah Muhammad

di kakimu penginapan Khaliq
dicalit lumpur dan muara purba

hira'
bumim,u akan bergegar
dari suara malaikat
wargamu akan gementar
dari lidah gementar
dari lidah Muhammad

Lihatlah bagaimana Moechtar melukiskan kejadian di gua Hira' ketika junjungan nabi besar kita Muhammad menerima wahyunya. Seperti inilah keseluruhan puisi Moechtar Awang. Dia berkisah, menyelitkan sedikit ' world-view ' nya ke dalam  sorotannya.

Moechtrar juga menulis tentang tradisi dan sejarah dalam pengucapan manteranya. Lihat bagaimana Moechtar menukilkan Mantera Pertunangan;

tujuh susun sirih pinang
dari tujuh pohon
tujuh gumpal nasi kunyit
dari tujuh padang
tujuh pasang kain persalinan
dari tujuh daerah

sebentuk cincin
merekah tujuh warna
ke jari manis

yang tak kejap diikatkan
yang tak kukuh dipakukan
yang tak sama diukurkan
yang tak kenal diketemukan
yang tak nampak disuluhkan
yang tak sampai dihampirkan
yang tak panjang dihubungkan
pasak akar antara tebing dan sungai
pasak tiang antara atap dan lantai

Begitulah Moechtar dalam setiap kali pemunculan. Dia bukanlah penyair yang prolifik menghasilkan karya, namun karya yang dimunculkannya sangat bermutu. Kita terus merindui karya-karya terbaru Moechtar.

Sapardi Djoko Damono melalui Sihir Hujan meneruskan pencarian beliau dalam menganyam kata. Setelah Mata Pisau dan DukaMu Abadi, Sihir Hujan ( Pemenang Anugerah Puisi Putra 2 ( 1984 ) merupakan karaya yang kaya dengan kata-kata. Sapardi mengolah tema, bentuk, bahasa dan emej yang seimbang menjelmakan pemikiran yang begitu luas. Ternyata alam dan ketuhanan menjadi topik utamanya, asli dan kelihatan segar. Sebagai maha guru sastra yang berbobot, Sihir Hujan mengujudkan fenomina yang tidak sedikit menggugat corak pemikiran waktu itu.

Dalam Kami Bertiga, Sapardi menulis;

dalam kamar ini kami bertiga:
aku pisau, dan kata -
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

Ya, buka-buka saja Sapardi telah melontarkan puisi sehebat ini. Satu filsafah yang sangat besar hingga mahu waktu yang panjang untuk menyelesaikan perhitungannya. Kita menyadari bahawa waktu ini merupakan zaman kemerosotan hidup. Khususnya kehidupan sosial dan kerohanian. Di sinilah Sapardi hadir walau pun telah didahului kehadirannya oleh Hoelderlin, Iqbal, Kahlil Gibran, Tagore atau Sinchiki Takahashi. Mereka ini mengembalikan unsur visioner dan semangat profetik dalam puisi-puisi mereka.

Dalam Kami Bertiga, Sapardi memberi tiga kata objek iaitu aku, pisau dan kata. Tiga objek ini memberi signifikennya masing-masing. Aku memberi makna keakuan yang berhak dan kuasa menentu. Pisau merupakan alat yang mustahak dan punya kuasa sementara kata adalah akal yang bisa memberi natijah. Tiga adalah kedudukan ganjil kerana angka tiga tidak membolehkan mendatangkan keputusan stabil. Tiga akan menentukan pemenang. Di sini penyair mengatakan, pisau barulah pisau kalau di matanya ada darah, tak peduli darahku atau darah kata. Di sini pisau adalah pemenang mutlak.

Puisi yang menjadi jodol kumpulan puisi ini ialah Sihir Hujan. Sihir Hujan memberi signifiken keseluruhan dalam kumpulan ini.

Hujan mengenal baik pohon, jalan,
dan selokan - suaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu
dabn jendela. Meskipun sudah kaumatikan lampu

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh
di pohon, jalan, dan selokan -
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Pengarang itu adalah seorang khalifah di muka bumi Tuhan. Dan penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat kecuali penyair yang beriman ( as-syuara, 225-227 ) Sapardi mengerti di mana kedudukan seniman beliau. Maka setiap kata dan renungannya adalah kalam yang membesarkan kecintaannya pada Ilahi. Dan tentu ia dikuatkan dengan puisi Tuan.

Tuan Tuhan bukan? Tunggu sebentar
saya sedang keluar

Dari pengamatan ketiga penyair ini, saya rasakan puisi di dua negara iaitu Malaysia dan Indonesia telah berada di puncak kegemilangannya. Dan menjadi tugas kita pula untuk menghargai kecemerlangan itu.


rujukan

1. Puisi Melayu Moden ( DBP, 1973 )
2. Pesisir Waktu ( A. Latif Mohidin, DBP, 1981 )
3. Qaf ( Moechtar Awang, DBP, 1985 )
4. Sihir Hujan ( Sapardi Djoko Damono, DBP, 1984 )
5. Tergantung Pada Kata ( A. Teeuw, Pustaka Jaya, 1980 )

Sumber http://www.facebook.com/friends/edit/?sk=requests#!/notes/djazlam-zainal/pesisir-waktu-qaf-dan-sihir-hujan-kata-di-mata-penyair/195866947119454

Tidak ada komentar:

Posting Komentar